Koalisi Orang Gunung (KOG): Konsen Pada Persoalan Agraria, HAM, Masyarakat Adat Dan Lingkungan

Koalisi Orang Gunung (KOG): Konsen Pada Persoalan Agraria, HAM, Masyarakat Adat Dan Lingkungan

22 views
0

Laporan Noufryadi Sururama

Minahasa, (deteksinews.id) – Bertempat di Kasuang Spritual Center (KSC) Tondano, kabupaten Minahasa, pada Selasa-Rabu (11-12/05), gabungan aktivis pemuda dan mahasiswa melakukan konsolidasi gerakan masyarakat sipil.

Menyikapi perampasan ruang hidup yang di antaranya persoalan agraria, Hak Asasi Manusia (HAM), masyarakat adat, lingkungan hidup yang terjadi di Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon, dalam konsolidasi tersebut tercetuslah nama Koalisi Orang Gunung (KOG) yang dalamnya berisi unsur organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan di Minahasa dan Tomohon, komunitas kampung, komunitas budaya, komunitas seni, dan organisasi non pemerintah (Non-Government Organization).

Adapun persoalan yang diangkat adalah perampasan ruang hidup yang di dalamnya persoalan agraria, di antaranya Kelelondey, Kalasey Dua, Uluna, dan Cagar Budaya di kaki Gunung Lokon. Dan juga akan mengawal produk hukum di daerah khususnya Minahasa dan Tomohon, seperti Rancangan Peraturan Daerah (Perda) Masyarakat Adat dan Perda yang dirasa diskriminatif bagi kaum rentan.

“Koalisi ini hadir sebagai bentuk rasa ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah saat ini, dimana lingkungan dan ruang hidup masyarakat mulai tidak diperhatikan, kita hidup seharusnya membangun hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Saat ini pemerintah mengajarkan kita untuk mulai merusak alam tempat tinggal kita, kurang kehadiran pemerintah daerah di tengah-tengah masyarakat apalagi di daerah-daerah yang terkonflik membuat posisi pemerintah tidak terlihat menjadi tempat mendengar dan ujung tombak rakyat dalam kesejahteraan,” terang Stevanus Goni yang juga selaku penggerak KOG di kota Tomohon kepada media Deteksinews.id.

Di tempat yang sama, Juan Ratu menambahkan bahwa gerakan ini merupakan suatu sinyal bagi pemerintah agar bisa lebih memperhatikan persoalan-persoalan perampasan ruang hidup.

“Ini bentuk gerakan alternatif, wadah ini sebagai alarm untuk pemerintah dan negara untuk bekerja bagi rakyatnya, juga sebagai alternatif bagi gerakan pemuda dan mahasiswa yang terlena dengan persoalan elitis dan sengaja tidak mau memihak pada rakyat dan tidak berani bersikap ekologis, masalahnya persoalan sudah di depan mata, sudah terjadi perampasan ruang hidup yang sistematis dilakukan lewat kebijakan pemerintah dan keberpihakan pemerintah kepada kapitalis, wadah ini terbuka dan menjadi ruang belajar serta membangun jaringan bagi setiap semesta yang ingin berjuang,” tambah Juan yang juga penggerak dari kabupaten Minahasa.

Perlu diketahui tujuan dari konsolidasi ini ialah: 1)Mengkonsolidasikan gerakan yang sistematis dan masif, 2)Menyatukan persepsi dan arah gerakan masyarakat sipil, 3)Membangun jaringan gerakan masyarakat sipil yang berpihak pada kaum tertindas 4)Menyatukan gerakan intelektual masyarakat yang produktif, 5)Menyadarkan masyarakat pentingnya solidaritas gerakan, 6)Mengawal terbentuknya produk undang-undang yang berpihak pada masyarakat, 7)Menyusun rencana, strategi dan taktik gerakan, 8)Membangun konsistensi gerakan yang berkelanjutan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *