oleh Dr. Aryanto Husain
Menangisi sebuah kehilangan adalah respons yang manusiawi, namun membiarkan air mata kering sebelum mengambil warisan nilai yang ditinggalkan adalah sebuah kerugian.
Kepergian almarhum Rachmat Gobel sangatlah pantas ditangisi. Jangankan yang mengenalnya, yang tidak kenal pun tak kuasa menahan sedih.
Hingga hari ini, getaran kesedihan terus menjalar diberbagai link media. Beresonansi di hati siapapun yang sempat melihat postingan kepergiannya.
Tangisan membasuh wajah orang-orang yang telah dibantunya, meninggalkan sebuah warisan filosofis yang sangat mendalam. Bahwa manusia berhak hidup gembira dan bahagia, siapapun dia.
Warisan filosofis ini mengakar pada kepribadiannya. Rachmat Gobel telah hidup dalam gelimang kebahagiaan sejak kecil. Namun hatinya teriris melihat kenyataan tidak semua manusia hidup seperti dirinya.
Goresan hati itu membuatnya melihat kembali makna kebahagiaan. Bahwa bahagia yang sebenarnya adalah saat melihat orang lain ikut bahagia. Rachmat melihat manusia lain sebagai subjek untuk digembirakan dan dibahagiakan!
Begitulah jalannya. Dia menjadikan industri dan usahanya bukan sekadar mesin pencari keuntungan, melainkan alat untuk mengangkat martabat manusia dan membawa kesejahteraan bagi orang banyak.
Betapa banyak rupiah mengalir, tidak saja ke tangan-tangan yang membutuhkan tapi juga ke berbagai program kerja yang hasilnya kelak bisa dinikmati masyarakat.
Politik menjadikannya semakin peka terhadap ketimpangan dan kemiskinan. Kita tidak akan bisa melupakan nasehat politiknya. Apapun partai kita, apapun bendera dan warna partai kita, tinggalkan perbedaan itu saat membangun Gorontalo khususnya dan Indonesia umumnya.
Sikap ini menjadikannya negawaran yang patut ditiru keteladannya. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan untuk melanjutkan api komitmen tersebut?
Dalam perspektif ekonomi klasik, manusia sering dianggap sebagai Homo Economicus, makhluk rasional yang melulu mengejar keuntungan pribadi (self-interest). Namun, ketokohan almarhum mempraktikkan apa yang kini divalidasi ekonomi perilaku bahwa manusia sebagai homo sapines digerakkan oleh social preferences (preferensi sosial) seperti altruisme, resiprositas, dan keadilan.
Preferensi sosial inilah yang menjadi warisan Rachmat Gobel konkret.
Maka saat tangisan kita berhenti, saat air mata mengering, tindakan nyata yang dapat kita lakukan adalah mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata melalui pendekatan arsitektur pilihan (choice architecture).
Pertama, geser dahulu default option tindakan kita. Default atau pilihan otomatis yang memiliki kekuatan terbesar. Mari ubah default harian kita, siapapun dia, birokrat, pengusaha, politisi maupun masyarakat. Dari awalnya bertanya “apa untungnya bagiku?” menjadi “Bagaimana keputusan atau kebijakan ini bisa membahagiakan dan memudahkan urusan orang lain?”
Kedua, ciptakan nudge, senggolan halus untuk kebaikan. Kita tidak perlu menunggu momentum besar untuk membawa kegembiraan. Ciptakan insentif psikologis di lingkungan kerja atau komunitas untuk mendorong empati. Kebahagiaan orang lain hadir saat kita mampu merancang suatu kondisi yang mempermudah orang lain melakukan apa saja yang inginkannya, atau memberinya jalan untuk memenuhi kebutuhannya.
Ketiga, atasi loss aversion, ketakutan akan kehilangan. Kita secara psikologis cenderung lebih takut kehilangan sesuatu daripada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Membantu orang lain apalagi membahagiakan nya mungkin akan mengorbankan apa yang kita miliki. Sikap empati akan menghilangkan rasa loss aversion ini. Dan itulah diperlihatkan seorang Rachmat.
Rasa sedih karena kehilangan tokoh besar sering kali menjebak kita dalam status quo. Kita harus melompat dari bias ini.
Jangan biarkan rasa kehilangan melumpuhkan inisiatif kita untuk berinovasi demi kemaslahatan umat. Karena itu hal yang tidak disukai almarhum semasa hidupnya. Rachmat Gobel justeru selalu berbagi motivasi agar kita selalu melakukan inovasi dan perubahan untuk selalu menjadi lebih baik.
Menjadi “Manusia Berarti” adalah tentang keberanian untuk terus mengalirkan manfaat. Rachmat Gobel telah meletakkan fondasi dan teladan bahwa puncak tertinggi dari eksistensi manusia adalah kemampuan untuk memanusiakan orang lain melalui kegembiraan yang kita hadirkan.
Air mata penghormatan terbaik bukanlah yang membasahi pipi secara pasif, melainkan yang diubah menjadi energi aktif. Menjadikan kebijakan berpihak pada rakyat, inovasi yang menyejahterakan, dan interaksi harian yang penuh dengan empati.
Rachmat Gobel telah pergi, namun cetak biru kemanusiaan yang ditinggalkannya kini berada di tangan kita untuk diwujudkan setiap hari.
Selamat jalan Pak Rachmat, doa kami akan selalu ada dalam tangisan dan bahagia kami..(***)













