[DeteksiNews.Id], Gorontalo Utara – Calon Bupati Gorontalo Utara (Gorut), Thariq Modanggu dengan tegas melarang semua juru kampanyenya menyampaikan ujaran-ujaran kebencian dan hujatan.
Dia menegaskan hal itu, di hadapan Tim Pemenangan Thariq-Nurjana dan ratusan massa pendukungnya, saat kampanye dialogis di Desa Katialada, Kecamatan Kwandang, Senin [11/11].
“Mengapa saya larang mereka mengumbar keburukan orang lain, karena dalam darah yang mengalir di tubuh kita ini tetap ada jasa orang lain, dan juga dalam darah daging kalian [jurkamnya, red], ada jasa orang lain. Jangan lupakan itu,” tegas Thariq.
Mantan Ketua Komite Pembentukan Kabupaten [KPK] Gorontalo Utara itu mengingatkan, jika ingin mendukung calon yang diinginkan, bicarakan saja apa program-program unggulannya. Tidak perlu menjatuhkan atau menghujat orang lain, apalagi sampai dengan cara-cara mengancam.
“Saya ingatkan para kepala desa atau siapa pun, jangan pernah mengancam rakyat. Karena jika Allah sudah menghendaki kami sebagai pemenang, kami akan menjadi pemimpin di Kabupaten Gorontalo Utara ini,” ujar Thariq dengan nada orasinya yang khas.
Dia menjelaskan, sudah terbukti upaya-upaya menggagalkan Thariq Modanggu untuk dapat ikut berkompetisi di Pilkada Kabupaten Gorut. Hal itu telah dimulai dengan rencana membuat kotak kosong.
“Mereka bayar semua partai, mereka bayar semua kursi, supaya Golkar tidak bisa mencalonkan, Pak Thariq tidak bisa jadi calon. Tapi hari ini apa, dengan kekuatan doa dari rakyat, saya ada di hari ini,” jelas Thariq.
Bupati pencetus gagasan pelayanan dengan model “Mo Tabi Kambungu” itu menambahkan, sebelum berhasil ikut berkompetisi sebagai calon bupati, dirinya telah menemui Ketua DPD Partai Golkar Gorontalo, Rusli Habibie, untuk menyampaikan dirinya tidak bisa ikut dalam kontestasi Pilkada Gorut 2024.
“Alasannya, pertama Partai Golkar tidak bisa mengusung karena tidak cukup kursi, dan kedua tidak ada uang saya. Makanya saya diteriaki miskin, karena saya memang tidak ada uang. Kita semua yang ada di sini sama-sama tidak bergelimangan uang, itu wajar-wajar saja. Namun, yang tidak boleh itu, hanya pemimpin yang bergelimangan harta, tapi rakyatnya susah, itu tidak benar,” pungkasnya.[*D003*]













