EKSPRESI EMOSI DALAM SUDUT PANDANG KEBERAGAMAN BUDAYA YANG ADA DI GORONTALO

39 views
0

-Amalia Ramdani Suaiba1
, Amelia Ahmad2
, Sri Wahyuningsi Polinggapo3
,Jhosua Manuel Solang Ottay3
, Nabihah Yusriyah Ginoga4
, Sri Aisyah Bempa

Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Gorontalo

Emosi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Kehidupan akan terasa hampa tanpa emosi. Setiap kebahagiaan dan kesedihan yang dirasakan oleh manusia
memberi arti tersendiri bagi kehidupan manusia. Dengan emosi manusia dapat mengetahui siapa
dirinya, bagaimana hubungannya dengan orang lain dan bagaimana sebaiknya manusia itu bertindak (Ristianti, 2015).
Ekman (dalam Sarwono, 2014) mengemukakan enam emosi dasar yang universal yaitu
marah, takut sedih, bahagia, jijik dan terkejut. Menurut Ekman (dalam Kurniawan dkk, 2015)
kultur dan sistem sosial tempat seseorang tinggal dan menetap akan membatasi dan mengatur
kepada siapa, kapan dan dimana saja seseorang boleh memperlihatkan dan merahasiakan
emosi-emosi tertentu serta dengan cara emosi tersebut dimunculkan melalui perilaku non verbal dan ekspresi wajah.
Gorontalo merupakan salah satu daerah yang ada di Indonesia yang merupakan
pengembangan dari provinsi Sulawesi Utara. Sejak terbentuknya Gorontalo sudah ada suku-suku
yang mendiami dan tersebar di seluruh wilayah Gorontalo terutama di wilayah pesisir pantai dan kawasan perkotaan seperti suku Suwawa, suku Atinggola dan suku Polahi.
Dengan letak geografisnya yang strategis membuat Gorontalo menjadi jalur perdagangan dan menjadi pusat
pendidikan. Hal ini membuat banyaknya suku-suku pendatang seperti suku Bugis, suku Jawa,suku Makassar, suku Bali, Suku Minahasa, suku Mongondow dan Tionghoa untuk berdagang serta melanjutkan pendidikan.
Dengan banyaknya suku yang ada di Gorontalo baik suku asli maupun suku pendatang yang memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga kami tertarik untuk mengetahui bagaimana cara mengelola dan mengekspresikan emosi marahnya dari berbagai suku yang ada di Gorontalo seperti suku Jawa, Suku Bali dan juga suku Gorontalo.
Dari hasil wawancara yang kami lakukan ada beberapa perbedaan cara orang dari suku Jawa, Suku Bali dan Suku Gorontalo dalam mengekspresikan emosi marahnya. Menurut salah seorang narasumber yang berasal dari suku Jawa “kalau saya mengendalikan emosi yaa
biasa-biasa saja yaa seperti orang-orang bilang orang jawa itu lemah lembut begitu, menjaga
perasaan orang lain juga”. Orang dari Suku Jawa cenderung sering mengekspresikan emosinya
dengan senyuman, hal ini disebabkan oleh adanya aturan dalam budaya Jawa yang
mengharuskan masyarakatnya untuk bersikap, sopan santun dalam melakukan interaksi sosial.
Selain itu ada juga keyakinan yang tertanam dalam masyarakat suku Jawa bahwa ketika
memperlihatkan perasaan secara spontan dianggap kurang pantas. Sehingga Masyarakat dari
Jawa cenderung lebih memilih untuk menyembunyikan perasaan yang mereka rasakan dan
memilih untuk tetap tersenyum (Baqi, 2015).
Menurut salah seorang narasumber yang berasal dari suku Bali “Saya orangnya kalau marah tuh cukup diam trus sama disenyumin aja karna juga sedari saya kecil saya selalu melihat ayah
atau ibu saya marahnya kebanyakan diam bahkan senyum jadinya hal itu juga saya terapkan kedalam diri saya.
Saya juga merupakan orang yang tidak enakan kalau marah-mara sama orang lain jadi lebih sering dipendam sama diam udah gitu”.
Cara orang dari suku bali mengekspresikan marahnya yaitu
lebih memilih untuk diam dan tersenyum. Hal ini ia pelajari dari orang tuanya dan diterapkan dalam dirinya. Selain itu untuk menenangkan dirinya ketika sedang emosi, orang dari suku Bali
memilih untuk menyendiri. Masyarakat suku Bali merupakan suku yang mayoritas agamanya beragama Hindu yang dilandasi dengan keharusan untuk menjalin hubungan yang baik antar manusia yaitu “tat twam asi” yang berarti “aku adalah kamu dan kamu adalah aku” yang
maksudnya jika seseorang mengasihi orang lain sama dengan ia mengasihi dirinya sendiri.
Selain itu suku Bali yang beragama Hindu percaya di setiap diri manusia ada tuhan karena itulah setiap
manusia tidak boleh saling menyakiti (Rahmawati, 2017).
Menurut salah seorang narasumber yang berasal dari suku Gorontalo “kalo saya marah
itu saya lebih suka mo b gas karena so ta biasa dengan saya olo ada pengalaman kalo cuma mo ba marah dengan suara biasa bo dorang mo cuek akan bagitu apalagi saya pe anak-anak”.
Orang dari suku Gorontalo lebih ekspresif dalam mengekspresikan emosinya.
Orang dari suku Gorontalo cenderung memilih menyampaikan emosi marahnya dengan nada bicara yang cukup
tinggi. Hal ini sudah menjadi kebiasaan dari orang Gorontalo yang dipelajari secara turun-temurun dan menurut orang dari suku Gorontalo ketika marah hanya disampaikan dengan nada biasa saja mereka cenderung tidak didengar dan sering diabaikan. Sebelum menjadi sebuah daerah, Gorontalo merupakan bagian dari Sulawesi Utara sehingga banyak aspek-aspek kehidupan masyarakat suku Gorontalo yang masih dipengaruhi oleh gaya hidup kultur masyarakat Manado salah satunya cara mengekspresikan emosi (Bay, 2009). Selain itu sebagian
masyarakat suku Gorontalo berasal dari pesisir yang pada umumnya berwatak keras dan terbuka.
Dengan adanya beberapa perbedaan dalam mengekspresikan emosi membuat
orang-orang yang berbeda suku ini mencoba beradaptasi satu sama lain. Orang dari suku Jawa dan suku Bali memilih untuk banyak berbaur dengan orang suku Gorontalo untuk bisa mengerti
cara orang dari Suku Gorontalo mengekspresikan emosinya.
Sedangkan orang dari suku
Gorontalo sangat menjunjung tinggi tradisi yang sudah terbangun sejak lama yaitu menghargai
tamu pendatang yang ada di Gorontalo (Lukum dan Sunge, 2021).

Your email address will not be published. Required fields are marked *