Yang tercecer di 23 tahun usia Bumi Panua

Yang tercecer di 23 tahun usia Bumi Panua

13 views
0

“Ramadhan di Pohuwato, Puasa di atas tanah yang menangis, turun seperti hujan yang lembut, namun jatuh di atas tanah gersang”

Pohuwato,@@@ Bulan suci datang membawa ayat-ayat langit, sementara bumi memikul luka yang dibiarkan terbuka oleh tangan-tangan yang berkuasa.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh tangan manusia…”
— QS. Ar-Rum 30:41

Kerusakan itu bukan rahasia lagi, ia terlihat jelas di sungai yang keruh,
di gunung yang bolong, di wajah petani yang kehilangan musim,
di nelayan yang pulang tanpa membawa ikan ….

Yang tidak terlihat hanyalah rasa malu, rakyat menangis, tetapi tangisan itu berhenti di meja rapat, seakan laporan yang datang dimeja pejabat tanpa dibaca.
mereka tahu, mereka melihat, mereka tetap menandatangani…..

Ramadhan mengajarkan manusia menahan diri, namun kekuasaan justru dijalankan tanpa belas kasihan.

Puasa menjadi ritual di masjid, sementara kebijakan berjalan seperti mesin yang tidak pernah lelah menindas.

“…janganlah kamu membuat kerusakan di bumi…”
— QS. Al-A’raf 7:56
Ayat ini dibaca setiap malam, tetapi siangnya diselesaikan dengan stempel resmi….

Setiap izin yang jatuh, bukan sekedar tinta di kertas, ia jatuh tepat di dada rakyat yang tidak pernah diajak bicara di setiap mereka membuat keputusan.

“Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanah…”
— QS. An-Nisa 4:58
Kekuasaan adalah amanah, tetapi di tangan yang salah, amanah berubah menjadi petaka.

Dan yang paling menyakitkan, semua ini terus terjadi meski di tengah suara azan, di bawah bayang bayang bulan Ramadhan…..

Seolah-olah Tuhan hanya hadir di masjid, bukan di sungai yang dicekik lumpur, bukan di sawah yang gagal panen…. Bukan di laut yang semakin keruh….dan bukan di gubuk gubuk penambang yang di gusur di area konsesi…

Ramadan datang membawa cermin, dan wajah yang muncul di dalamnya adalah wajah kekuasaan yang terlalu lama berdamai dengan kezaliman.

“Allah tidak mengubah keadaan suatu umat…”
— QS. Ar-Ra’d 13:11
Ayat ini bukan hanya untuk rakyat.
Ia juga untuk para penguasa…, karena jabatannya tidak kebal dari hisab!!!!

Nauzubillahiminzalik …

Bayangkan hari ketika tanah membuat kesaksian, ketika sungai berbicara, ketika petani dan nelayan tidak perlu lagi berteriak-teriak, karena bumi sendiri yang menjadi Saksi….

Langit tidak pernah tuli…ia hanya menunggu waktu menjawab…..

Ramadhan bukan sekedar bulan puasa, ia adalah audit hati nurani, dan mungkin pertanyaan yang akan ditanyakan kelak, bukan berapa kali kita tarawih….tetapi berapa banyak luka rakyat yang telah kita tanda tangani
dengan sadar..

Akhirnya…

Selamat hari ulang tahun Kabupaten Pohuwato yang ke – 23 tahun 2026
Selamat menunaikan ibadah Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah….

Semoga setiap azan yang kita dengar, tidak hanya memanggil tubuh ke masjid, tetapi memanggil hati pulang kepada rasa takut……

Jika bumi ini masih harus menangis, semoga ia menemukan kita sedang berusaha berubah….

Selamat menjalankan ibadah puasa.
Semoga di antara lapar dan doa, kita masih sempat merasa perih
atas penderitaan yang bukan milik kita sendiri…… dan itu menyelamatkan kita……
sebelum semuanya terlambat.

(Tim Redaksi Pers Siber Indonesia)

Your email address will not be published. Required fields are marked *