DETEKSINEWS.ID, Pohuwato – Sidang adat tonggeyamo yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Pohuwato, Selasa malam (17/02/2026), menjadi wujud sinergi antara nilai keislaman dan kearifan lokal.
Prosesi sakral itu menjadi penanda tradisi adat Gorontalo tetap hidup dan menyatu dalam setiap momentum penting keagamaan. Usai sidang adat, pemangku adat melanjutkan rangkaian prosesi kepada Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, selaku khalifah di daerah.
Pemakluman penetapan 1 Ramadan dilakukan melalui prosesi adat mopo ota mopotingohu tingohu lipu toyiladia lo tau lo ulipu, yang ditandai dengan bunyi genderang adat selama lima menit di Rumah Jabatan Bupati, Rabu (18/02/2026).
Genderang tersebut dipimpin langsung oleh Bate Pohuwato, Asmad N. Tuna, sebagai simbol pemberitahuan resmi kepada pemimpin daerah dan masyarakat bahwa malam itu telah memasuki 1 Ramadhan.
Tradisi ini simbol penghormatan kepada pemimpin sekaligus penguatan identitas budaya dalam menyambut bulan suci. Irama genderang yang menggema di halaman rumah jabatan menjadi pertanda suka cita, sekaligus ajakan spiritual bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan penuh berkah.
Dalam prosesi tersebut, Bupati Saipul A. Mbuinga dijemput secara adat dari rumah jabatan menuju Masjid Agung Baiturahim Pohuwato guna melaksanakan salat tarawih perdana. Setibanya di masjid, Bupati didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Zulkifli Umar serta Kadhi Pohuwato Syaiful Ali Sabu, melakukan pemukulan beduk sebagai tanda dimulainya salat tarawih sekaligus penanda masuknya bulan suci Ramadan. Pemukulan beduk tersebut kemudian dilanjutkan oleh para pemangku adat.
Bupati Saipul menegaskan bahwa dentuman beduk yang menggema malam itu merupakan simbol dimulainya ibadah puasa pada Kamis, 19 Februari 2026. Ia mengajak seluruh umat Muslim di Kabupaten Pohuwato untuk menyambut Ramadan dengan penuh rasa syukur dan memperbanyak amalia.
Mulai malam ini kita laksanakan salat tarawih berjemaah. Mari kita isi bulan Ramadan dengan pengajian, tadarus Al-Qur’an, salat wajib dan sunah, serta berbagai amalia lainnya,” ujar Bupati.
Ia juga mengingatkan bahwa kesempatan untuk kembali bertemu Ramadhan di tahun mendatang belum tentu dapat diraih setiap insan. Karena itu, momentum Ramadan 1447 Hijriah diharapkan menjadi ruang refleksi diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Dengan berpadu antara adat dan syariat, Pohuwato kembali menegaskan identitasnya sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai religius dan budaya dalam setiap denyut kehidupan masyarakatnya.
Prkm- D002












