Fenly Derek, Sang Pemerhati Lingkungan Di Sulut

Fenly Derek, Sang Pemerhati Lingkungan Di Sulut

155 views
0

Laporan Noufryadi Sururama

Manado,(deteksinews.id) – Fenly Derek, mungkin nama yang tak asing bagi para penggiat pecinta alam yang ada di Sulawesi Utara (Sulut), pria kelahiran Manado, 13 Februari 1983 ini begitu akrab dengan sapaan ‘Yakang’.

Pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Eben Haezar Manado, tak mengurungkan niat dan kecintaannya terhadap kepedulian lingkungan. Berawal dari ilmu yang ia terima di lapangan didalam Komunitas Pecinta Alam(KPA), dan pengalaman-pengalaman lainnya, serta keingintahuan, membuat pengetahuan dari pendiri salah satu forum Lintas Pecinta Alam Manado Utara (LPAMU) ini makin terasah.

“Pelestarian ini bagi kita sangat di perlukan sekali, yang saya ketahui Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelum di jabat oleh Bu Susi Pudjiastuti beberapa tahun lalu menggambarkan keadaan ekosistem laut dan pesisir banyak yang rusak, dan setelah bu Susi menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, maka di tata lagi dengan baik, dan kini pun aktivitas pelestarian laut dan pesisir dilanjutkan dan telah gencar di lakukan pemerintah,” tutur Derek dalam wawancara dengan media Deteksinews.id di rumahnya, di Jl. Bunaken, Cempaka, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (14/05).

Mengacu pada undang-undang, pelestarian sekarang lagi gencar-gencarnya bukan hanya sekedar buat pariwisata melainkan untuk melestarikan ekosistem laut dan pesisir, karena banyak kebutuhan manusia itu berasal dari laut.

“Dalam undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Hayati, kita melakukannya dari sekarang, karena seperti yang diketahui bahwa tingkat pertumbuhan dari karang itu sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, 1 cm pertumbuhan karang membutuhkan waktu hingga 1 tahun, karang itu bukan batu atau benda mati melainkan hidup dan karang tergolong hewan, yang kecil-kecil itu karang sedangkan yang sudah besar itu namanya terumbu karang,” lanjut Derek.

Derek juga menambahkan terkait aturan dari pemerintah terkait pulau-pulau kecil yang harus di lestarikan.

“Di pulau Tatoareng Kepulauan Sangihe muncul sekarang dengan istilah Taman Pulau Kecil (TPK), baru nanti akan muncul di Taman Wisata Perairan (TWP) di kabupaten Minahasa Utara (Minut), itu notabenenya masuk dalam perlindungan, jadi sudah tidak lagi sembarang seperti halnya menggunakan peledak (bom) dalam mencari ikan dan menggunakan racun, kita melakukan survey di tempat-tempat tersebut bekerjasama dengan pemerintah yang terkait di bidang itu demi pelestarian dan menjaga ekosistem,” tambahnya.

Masalah sampah juga itu menjadi PR bersama, karena bisa dilihat makin hari populasi masyarakat yang ada di kota Manado makin hari makin bertambah, lebih bagus kita sama menjaga dan melestarikan alam.

“Masih ada segelintir manusia yang kurang paham dan sadar, mereka hanya memakai serta memanfaatkan tanpa adanya pengembalian terhadap alam,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Fenly Derek juga membuat satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) “Chaetodon”, terkait pelestarian laut dan pesisir, pelestarian lingkungan, penanaman mangrove, pelestarian penyu, dan penanaman pohon, di samping itu Derek juga beberapa kali terlibat ke dalam organisasi-organisasi seperti, Komunitas Perkumpulan Pecinta Alam (KPPA) Tarantula Adventure 2009-sekarang, LPAMU 2015-sekarang, Chaetodon Manado 2018-sekarang, dan Manengkel Solidaritas 2018-2020.

Adapun penghargaan-penghargaan yang telah di terima oleh Fenly Derek: 1)Rehabilitasi Hutan Mangrove, di kelurahan Tongkaina-Bahowo kec. Bunaken, 2)Penanaman Mangrove di desa Kampung Ambon & desa Kalinaun Likupang, 17 Juli 2020, 3)Tranplantasi Karang di desa Kapitu, Amurang Barat, 5 April 2019, 4)Sebagai Mitra Pemerintah Prov. Sulut, dalam kegiatan World Environment Day, 28 Juni 2019, 5)Sbgai Mitra Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) & NCC CTI CFF Indonesia dalam kegiatan Coral Triangle Day Festival 2019, 6)Kegiatan Explore Photo Lingkungan di desa Ranowangko 2 dan desa Atep Oki kabupaten Minahasa Utara (Minut), 7)Kegiatan Menghadap Laut 2.0 di Pelabuhan Perikanan pantai Tumumpa Manado, 8)Pemulihan Ekosistem, Penanaman Mangrove, di desa Mokupa Minut, 9)Macrographer in 2019, sebagai juara 3 Manado.

Your email address will not be published. Required fields are marked *