
GORUT [deteksinewes.id]–Jika terpilih sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Gorontalo Utara [Gorut], pemerintahan Thariq Modanggu dan Nurjana H. Yusuf bakal diwarnai dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Saat berkampanye di Desa Dambalo, Kecamatan Tomilito, Jum’at [11/10], Thariq Modanggu mengatakan, ada konsep pembangunan Mo Tabi Kambungu yang dipersoalkan orang-orang tertentu.
“Salah satu yang dipersoalkan adalah konsep “Mo Tabi Kambungu”. Padahal dalam konsep itu terdapat nilai-nilai kearifan lokal. Maknanya sangat mendalam,” ujar Thariq dengan gaya orasinya yang khas.
Dia menjelaskan, mendapatkan ide tersebut saat melakukan sholat yang dalam Bahasa Gorontalo adalah mo tabiya yang bermakna menyayangi atau mencintai.
“Satu waktu ide ini saya dapatkan saat mengambil air wudhu untuk sholat atau dalam bahasa Gorontalo adalah mo ta biya. Dari situlah saya mendapatkan ide Mo Tabi Kambungu. Dan ini saya lakukan saat saya bupati. Hanya saja, belum semua kecamatan bisa terjangkau karena pendeknya masa jabatan saya. Itupun masih dapat saya lakukan selama kurang lebih satu tahun,” tutur calon bupati bernomor urut 2 ini.
Menurut Thariq, dalam Mo Tabi Kambungu, terdapat dua sistim yang bakal dilakukan, yakni mobile atau secara bergerak, kemudian ada sistim stationary atau terpusat.
“Dengan sistim mobile, daripada masyarakat harus datang ke Blok Plan untuk mendapatkan pelayanan, lebih baik Organisasi Perangkat Daerah [OPD]-nya yang diajak ke desa-desa untuk memberikan pelayanan. Tapi mirisnya, lawan politik menganggap hanya menyengsarakan rakyat,” terangnya.
“Contohnya, ada warga yang kartu BPJS-nya sudah tidak aktif. Demikian halnya KTP. Ini harus di-update. Dengan adanya sistim pelayanan bergerak maupun terpusat, akan lebih mudah bagi masyarakat untuk menjangkau pelayanan itu. Ini yang mereka sebut menyengsarakan rakyat?” lanjut Thariq dengan nada tanya.
Kedepan, lanjut Thariq, dua sistim itu yang akan dimaksimalkan demi memaksimalkan pelayanan dengan mudah dan cepat. Selain itu, agar masyarakat lebih mengenal dan merasa akrab dengan OPD.
“Dan yang paling terasa dalam sistim mobile saat memboyong OPD, di titik kunjungan, mereka para OPD akan berbelanja di tempat itu sehingga uangnya akan beredar disitu pula,” imbuhnya.
Selanjutnya, hal-hal yang menyangkut pertanian, dirinya menggagas nama “Mo Pomulo”. Banyak makna filosofis di dalamnya. Dengan begitu, daerah akan mendapatkan penilain yang baik dari pemerintah pusat melalui kementeriannya.
“Ini dilakukan agar kita lebih mudah mendapatkan anggaran dari pusat seperti Dana Investasi Daerah (DID). Nah ini semua dilakukan melalui pendekatan nilai-nilai kearifan lokal,” pungkasnya.##[Adv.D003]